image
Kisah Farra' Yahya Bin Ziyad Ulama Tokoh Nahwu

Kisah Farra' Yahya Bin Ziyad Ulama Tokoh Nahwu

Tokoh nahwu

Dalam Tarikh Albaghdad, karya Imam Khatib Al-Baghdady, diceritakan. Farra' Yahya Bin Ziyad adalah seorang ulama nahwu yang hidup dizaman khalifah Al Makmun. Beliau diminta oleh Khalifah agar mengajari kedua putranya.

Suatu hari, Farra' bangkit dari tempat duduknya. Lantas, kedua putra Khalifah Al Makmun yang menjadi muridnya itu, saling berebutan mengambil sandal Farra untuk diberikan padanya. Keduanya berselisih, siapa yang paling berhak untuk memberikan sandalnya. Akhirnya keduanya sepakat untuk memberikan masing-masing satu sandal.

Kejadian itu terdengar oleh Khalifah Al Makmun. Farra' Yahya Bin Ziyad  pun dipanggil agar menghadap kepadanya.

"Siapa orang yang paling mulia?" Tanya Khalifah

"Saya tidak mengetahui seseorang yang lebih mulia dari Amirul Mukminin (Maksudnya Khalifah Al Makmun)" Jawab Farra'

Khalifah Al Makmun pun menyanggah "Tidak. orang yang mulia adalah apabila seseorang berdiri, dua putra mahkota saling berebut untuk memberikan sandalnya, hingga kedua putra itu sepakat untuk memberikan masing-masing satu sandal".

Farra' berkata "Sebenarnya, aku ingin melarang mereka wahai Amirul Mukminin. Tapi, aku khawatir akan mencegah mereka dari kemuliaan yang mereka rebutkan. Sehingga jiwanya terganggu".

Al Makmun berkata pada Farra' "Seandainya kamu  melarang kedua putraku membawakan sandalmu. Engkau akan tersakiti dengan hinaan dan celaan saya. Apa yg mereka lakukan sama sekali tidak mengurangi kemuliaan keduanya disisiku. Bahkan, mengangkat derajat dan kemuliaannya. Kamu tahu? Saya telah membekali kedua putraku dengan 20.000 dinar.  Dan kamu berhak mendapatkan 10.000 dinar atas apa yang telah kamu ajarkan  kepada kedua putraku".

Dulu, banyak santri yang kelihatannya jarang belajar, jarang muthola'ah, jarang ngaji, jarang membaca. Kerjaannya hanya melayani kyai, melaksanakan apa yang diperintahkan. Namun, mereka menjadi orang alim, menjadi ulama besar.

Zaman sekarang, kebiasaan santri semacam ini. Sudah menjadi barang langka. Jarang kita temui. Bahkan, tak ayal sandal kyainya sendiri dicuri, atau sekedar dipakai untuk cuci kaki. 
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments