Tangisan Di Gubuk Reot ( Sumenep Berbagi )

Tangisan Di Gubuk Reot ( Sumenep Berbagi )

rumah gubuk reot
Letih lesuh tak dirasakan, asal saling merasakan bagaimana arti sebuah kehidupan. Mulai dari relawan dermawan usahawan hingga wartawan, semua datang menyaksikan sebuah tangisan. Tangisannya kaum yang luput dari perhatian orang-orang atasan.

Namun, Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, tepatnya tgl 7 oktober 2017. Komunitas Sumenep Berbagi, mengadakan misi untuk menjelajahi orang-orang yang perlu uluran tangan. Dalam misi tersebut, Sumenep Berbagi mendatangi empat warga miskin yang ada di Desa Kolor, Pajagalan, dan di Kecamatan Manding. Kami berkumpul di hotel garuda, di Jl. Kamboja, mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk barang-barang yang akan diberikan pada kaum dhuafa.

Jumaani, seorang nenek yang hidupnya sebatang kara, tidak punya suami, tidak punya anak, dan juga tidak punya saudara. Beliau yang kami datangi pertama kali. Tinggal di tengah-tengah kota, dekat dari keramain pasar, tapi luput dari perhatian masyarakat maupun perhatian pemerintah setempat. Ia termarjinalkan ditengah hiruk pikuk kehidupan kota Sumenep, hidup ditengah kota namun tidak terlihat oleh pemangku kebijakan. 

Beralih ke Nenek Misnati, awalnya menjadi tulang punggung keluarga selama ini untuk memberikan makan anak kesayangannya, namun sekarang posisi berbalik sejak beliau lumpuh akibat sakit beberapa tahun yg lalu.

Peran tulang punggung keluarga kini di ganti oleh anaknya yg juga lumpuh kedua kaki dan tangan kirinya akibat stroke yang menyerangnya. Kedua pasangan ibu dan anak ini praktis hanya hidup di area teras rumahnya yang sudah reot berukuran 2x3m. Tidur, makan minum, memasak, mandi bahkan Bab dan Bak juga di tempat. Ruang dalam rumah praktis tida pernah di tempati, karena sang ibu yang terbaring lemas di atas tempat tidur dirawat oleh si anak  juga lumpuh. Sehingga tidak bisa mengurus soal tempat tinggal. Di gubuk reot yg bocor inilah, kedua ibu anak ini tinggal.

Disaat yang lain sibuk mempersiapkan kedatangan jokowi, sumenep berbagi juga sibuk mengabdi untuk kesejahtraan dan penyetaraan. 

Jangan tanyakan tentang standart hidup ke mereka, tidur di teras rumah, tidak bisa kemana mana, lalu lalang tetangga dan anak-anak  yang bermain lah hiburan bagi mereka. Apalah arti sebuah hidup jika berjalan saja tidak bisa, untuk menyaksikan keindahan ciptaan yang maha kuasa. Namun mereka tetap tabah tanpa rasa putus asa, meski dalam keadaan terlunta-lunta.

Baca juga:

Karena belajar adalah kewajiban, menulis untuk mengabadikan, menyebarkan merupakan kebaikan
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments