Penguasa dan rakyat dalam kasus tersangka

Penguasa dan rakyat dalam kasus tersangka


rakyat berdemo
Ketika rakyat kecil jadi tersangka. Tak ada negosiasi, tidak ada disepensasi, tidak ada sosialisasi. Pokoknya ringkus saja, jembloskan kepenjara. Dan ketika penguasa/pejabat jadi tersangka, waktu terus diulur, seakan bukti-bukti yang ada dianggap belum cukup untuk menangkap tersangka. Ya, memang tidak mudah menentukan orang salah atau benar. Namun,  dalam konteks proses hukum antara penguasa dan rakyat, terdapat perbedaan yang mencolok.

 Ketika rakyat dibawah berteriak sekeras-kerasnya, untuk menuntut keadilan, PENJARAKAN DIA, TANGKAP DIA! seakan teriakan itu bagaikan loudspeaker yang cukup didengar saja. Jika suara rakyat sudah tidak didengarkan, lalu siapa lagi yang bisa diharapkan untuk menegakkan keadilan. Inilah yang menjadi perbedaan antara penguasa dan rakyat dalam menjalani suatu proses hukum.

Inilah kehidupan dalam suatu pangkat dan jabatan, dimana yang dibawah selalu menjadi target sasaran kesalahan. Ketika bawahan salah sedikit saja, cacian dan bentakan bak peluru yang sedang menembus dada. Giliran jajaran atas yang salah,  kesalahan itu bagaikan hanya sebuah lelucon. Bahkan, terkadang kesalahannya dilimpahkan kepada bawahan.

Baca juga:

Karena belajar adalah kewajiban, menulis untuk mengabadikan, menyebarkan merupakan kebaikan
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments