Temu Alumni Nasional  Al Ishlah  Tahun 2016

Temu Alumni Nasional Al Ishlah Tahun 2016

al ishlah bondowoso
Satu tahun sudah, tak bersilaturrahmi ke Pesantren Al Ishlah. Tentunya, rasa ingin berkumpul bersama teman-teman selalu ada. Kesempatan mas ini datang setelah lebaran idul fitri. Teman-teman di fb mengganti foto Profilnya, dengan gambar “sahabat, ayo kepondok”. Pun demikian di BBM, terpampang dengan DP yang sama. Yah, seharusnya begitulah kita memanfaatkan media sosial. Sebagai sarana untuk menjaga hubungan  persaudaraan, dan tidak mudah melupakan teman sperjuangan.

Seperti biasa, yang namanya Widhy dan Nanang. Tak ingin melewatkanku begitu saja. Entah, apa hubungannya dengan saya sebagai Santri yang ndak sampai satu tahun disana. Mungkin karena hubungan kami terlalu dekat. Walaupun jarak memisahkan kami. Kami selalu aktif di forum media sosial. 

Atau mungkin, kami sesama santri terinveksi dengan virus yang namanya: Jauh dimata dekat dihati. Bukan soal wanita, Tapi semua ini soal persaudaraan, masalah menjaga hubungan baik antar sesama santri dengan mantan santri. Untuk itulah, merupakan kewajiban bagi saya untuk menghadiri acara Temu Alumni Nasional 2016 di Pesantren Al Ishlah Bondowoso.
alishlah bondowoso
alishlah bondowoso
Halaman Stit Al Ishlah
Harus mencuri-curi waktu untuk bisa menghadiri acara yang penting ini. Selain kepentingan pribadi, juga tugas-tugas di lembaga yang tak bisa ditinggalkan. Dengan terpaksa, tidak boleh tidak, harus meminta kepada teman. Agar melayangkan surat undangan resmi dari pihak Al Ishlah. Walaupun tidak dikirim melalui kantor pos, hanya melalui fb. Paling tidak, dapat menjadi bukti alasan kepada atasan untuk mendapatkan ijin.

Dengan alasan: acara dilaksanakan selama tiga hari, plus PP dua hari. Ahirnya, jatah waktu yang diberikan oleh Bpk Ketua hanya lima hari. Waktu yang cukup, untuk bersilaturrahim dengan Abi, dengan para Asatidz. Dan dapat bernostalgia dengan teman-teman.

Perasaan ndak enak, sungkan, malu. Tiba-tiba nagkring didalam diri. Spertinya tidak mau diajak kompromi untuk segera pergi. Terpaksa, harus minta jemput kepada teman akrab di Portal pintu masuk Al Ishlah. Yang dijaga oleh dua pasukan pramuka. 

Turun dari Bus, disana sudah menunggu seorang teman. Bersama dua pasukan siap tempur penjaga pintu gerbang. Sama seperti dulu, ketika nyantri. kebiasaan mengucapkan salam dan menjawab salam, tak pernah hilang ditelan bumi. Justru, yang seahrusnya tamu mengucapkan salam. Malah santri-santri cilik yang mengucapkan salam lebih dahulu. Seakan tak memberi kesempatan kepadaku untuk mengucapkan salam. Sepertinya, anak-anak santri memang berebutan untuk mendapatkan nilai kebaikan.


Memang, istirahat adalah obat ampuh. Untuk menghilangkan rasa lelah setelah mengadakan perjalanan jauh. Kesempatan itu tak kusia-siakan, setelah semalam suntuk tidak tidur. walau hanya istirahat sejenak. Paling tidak, dapat memberikan stamina baru dan bisa saling berbagi cerita dengan teman-teman.
alishlah bondowoso
Gedung Serba Guna (GSG) Al Ishlah

alishlah bondowoso
Yang pertama kali menjadi trading topic bersama teman di Asrama. Adalah teman-teman sperjuangan di Al Ishlah, yang tidak datang maupun yang belum datang. Serta taman putra dan putri yang: ndak tahu kemana perginya setelah meninggalkan Al Ishlah. Mungkin sudah ada yang ke pelaminan cinta hidup baru, mungkin juga sudah ada yang bekerja. Belajar hidup mandiri.

Mahluk yang bernama Kamera, tak pernah lepas dari tangan. Setiap berjalan dilingkungan pesantren, selalu memotret apa saja yang kulihat. Ntah itu yang berguna atau tidak. Mulai dari aktifitas santri, bangunan bangunan yang megah, hingga semacam umbul umbul dan poster Temu Alumni Nasional 2016. Sebagai monumen sejarah dokumenter pribadi.

Waktu shalat jumat tiba. Sang Khatib sudah mulai berceramah, menyampaikan pesan-pesan suci kepada para jamaah. Dimasjid yang besar ini, bertemu dengan para asatidz. disana ada Ustadz toha, Ust. Mahmud, Ust. Sulaiman, Ust. Aziz, Ust. Rastiadi, Ust. Azhar dan para Asatidz yang lain. Serta disana dapat berjumpa dengan Abi Ma’sum Pendiri dan Pengasuh PP. Al Ishlah Bondowoso.

Shalat Jumat di Imami langsung oleh Abi Ma’sum. Usai mengimami shalat, Beliau memberikan ceramah singkat, sebuah ceramah nasehat yang membuat bulu kuduk merinding. Beliau bercerita tentang Sakit dan Kematian. Dengan suaranya yang berwibawa, serta penyampaian yang dikaitkan (dibuktikan)  dengan peristiwa nyata. Membuat hati merasa, seakan Malaikat Maut sudah berada didepan mata. Yang siap mencabut nyawa kapan saja.

Dalam suasana idul fitri, Pertemuan Alumni tahun 2016  Pondok Pesantren Al Ishlah, dijadikan ajang untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Betapa senangnya hati, saat itu dapat bersalaman langsung dengan Abi. Dengan super kesibukannya, Abi memang sulit ditemui. Tapi beliau selalu menyisakan waktu husus untuk santri-santrinya, dan para Warga sekitar. Tak lupa juga bagi para Alumni.

Pesan suci dari Abi, yang membuatku tersenyum. Beliau menasehati Kami dengan menggunakan syair dari Madura. Sebauh nasehat yang lebih baharga dari pada untaian perhiasan, lebih indah dari pada tarian para penyanyi, lebih berkesan dari pada kesannya para musisi. Beliau membacakan sastra dari Madura  “Kereta api di Madura disebut seppur, diatas seppur ada kondektur - Lebih baik mati berjuang dan bertempur, dari pada mati diatas kasur”. Hehe.. sekian.

Baca juga:

Seorang Pelajar Yang Suka Nyasar kemana-mana hanya untuk mencari ilmu dan pengalaman.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments