7/16/2016

Pengajian Tafsir Jalalain Tambhena Ate Yang Tertunda

alishlah bondowoso
Semua ruangan Masjid sudah penuh. Seakan tidak ada tempat lagi untuk duduk nyaman menikmati pengajian tafsir jalalain. Pengajian yang tak pernah saya ikuti sebelumnya. Pengajian tafsir Tambhena ate, yang hanya saya nikmati sekedar undangannya di media sosial. Sementara tidak pernah menyaksikan langsung bagaimana Abi Ma'sum menafsirkan dan menjelaskan Kitab Tafsir rujukan umat islam itu.

Pengajian tafsir Tambhena Ate, yang saya tunggu-tunggu. Ternyata di tunda oleh Abi ke Bulan berikutnya. Sementara, para jamaah. Mulai dari santri Al Ishlah, Kalangan Masyarakat, Tokoh Agama, Aparat Pemerintahan, dan lain-lainya. Sudah duduk manis memenuhi shaf-shaf.

Akan tetapi, tertundanya pengajian  bulanan tafsir jalalain tidak membuat yang hadir kecewa. Disana sudah ditunggu acara lain, yang tidak kalah sakralnya dengan pengajian tafsir. Sebuah acara yang memang ditunggu-tunggu oleh sepasang insan kaum Adam dan Hawa. Yang ingin menyempurnakan separoh agamanya dengan prosesi akad nikah.

Mengapa tidak dikatakan sakral. Wong diluar ruangan saja. Subhanallah, Yang ingin menyaksikan prosesi akad nikah pada berebutan dipintu, hanya ingin menyaksikan Qotrun Nada cucu Abi, menikah dengan seorang laki-laki lulusan Sarjana Tehnologi bernama Iqbal. Saya pikir, untuk apa orang yang sudah tua, yang sudah pernah merasakan bagaimana nikmatnya susana pernikahan masih saja berebutan. Seandainya saya dan yang jomblo jomblo lainnya berebutan untuk menyaksikan pernikahan, hal itu wajar-wajar saja.

Hal ini menjadi saksi sejarah, bahwa yang namanya akad nikah bukan hanya untuk kalangan singgel saja. Siapa tahu diluar sana masih ada orang yang sudah punya sibuah hati belahan jantung, mau menambah pendamping hidup baru agar mendapat semangat baru menikmati sisa-sisa hidupnya.

Hanya diulang satu kali, pernikahan itu sah. Dilanjutkan dengan doa dan shalat isya' berjamaah, hingga pesta pernikahan di Gedung Serba Guna (GSG).


EmoticonEmoticon