Menjadi Pemulung Lebih Mulia Dari Pada Meminta Minta

Menjadi Pemulung Lebih Mulia Dari Pada Meminta Minta

Pemulung
Seorang Ibu, umurnya mungkin hampir 60 tahun. Tak pernah Absen, tak pernah lelah. Memunguti sampah setiap hari. ia selalu tak melwati tempat sampah. Dimana saja ada sampah, ia memungutinya. Apa saja barang yang cocok untuk dijual, ia masukkan kedalam sak bawaannya.

Entah, kenapa dia lebih menjadi Pemulung. Kenapa tidak memilih pekerjaan yang lebih menjanjikan. Daripada mencari barang yang, kalau dijual mungkin tak seberapa. Tentu, ia punya alasan tersendiri kenapa menjadi seorang pemulung.

Kalau jam 07.00 pagi sampai sore, adalah waktu ngantor bagi para pejebat. Bagi Ibu ini, pada jam tersebut adalah waktu untuk menupang kebutuhan hidup, dengan mencari barang-barang bekas. Tak ada bedanya dengan yang dikantor. Sama-sama bekerja, sama-sama mencari nafkah. yang membedakan hanyalah pandangan di Masyarakat.

Saya selalu menyebutnya Ibu, ketika memanggil untuk sekedar berbagi. Profesinya sebagai pemulung. Tidak membuanya malu. Raut mukanya tetap ceria, hanya sedikit lusuh. Maklum, yang dia kerjakan bukanlah pekerjaannya orang-orang beradasi

"Ibu'"...
"iya nak" terkadang ia menyebut  "ada apa nak"

Panggilan "nak" membuat hati saya terenyuh. Kalau ada orang yang mengidolakan artis. Saya lebih idola padanya. Sifatnya yang lembut, peramah, perduli pada lingkungan, tidak meminta-minta. Itulah yang membuat saya kagum

Ibu pemulung itu selalu melintas di depan kantor. sekitar, antara jam 09.00 sampai jam 10.30 sehingga ia mudah ditemui. Jika ingin bertemu dengannya. Tak perlu dicari, cukup tinggal menunggu. Ia pasti datang, kecuali karana sakit atau sedang berhalangan. Seakan, ia seperti malaikat yang memang diutus secara husus oleh tuhan.

"Terima kasih nak, semoga kamu tambah lancar rezekinya, cepat dapat jodoh, dan tambah sukses"

Itulah ucapan yang selalu keluar dari lisannya, setelah menerima pemberian.  Bagaimana hati tidak terenyuh, jika mendapat doa seperti itu. Ntah dari mana dia tahu kalau saya masih lajang. Walaupun sebenarnya bukan masalah jodoh yang saya harapkan. Tapi, tak apalah. Ibu itu ikhlas mendoakan saya.

Tak kenal panas atau hujan, ibu itu terus memulung. Sepertinya, dia memang mengatur waktu husus, untuk memulung barang-barang sampah. Ia tak mau kalah dengan orang-orang kantoran dalam hal kedisiplinan waktu. Sementara, disekitar kita terkadang ada seorang pekerja mulai dari Pns, guru, karyawan. Yang, suka korupsi waktu.

Seandainya Ibu pemulung itu, mau mencari pekerjaan lain. Tentu ia mampu. Akan tetapi, ia lebih memilih menjadi Pemulung. Mungkin, baginya menjadi seorang pemulung adalah pekerjaan yang mulia.

Pemulung itu lebih mulia dari pada meminta-minta. Di Kota saya, mungkin juga di kota-kota lain. yang namanya peminta-minta. Tak pernah hilang dari permukaan, walaupun Fatwa Mui sudah mengharamkan.

Ternyata Ibu itu dari desa Marengan. sekitar 4km dari Kota. Berjalan kaki adalah kebiasaanya setaip hari. Tak pernah mengenal putus asa. Tak kenal dengan yang namanya lelah. Dibandingkan dengan kita, yang bekerja sambil duduk dikursi, bermodal pena dan tinta, dan seperangkat alat komputer. Bekerja sebentar saja mengeluh karena kecapekan.

Namanya tidak tahu persis. Hanya saja panggilan ibu' yang slalu disandingkan padanya. Kekurangan yang ada padanya, ia tidak terlalu menghiraukan sapaan ketika bertemu di jalan. Hanya sebatas "iya nak", dan tatapan sesaat untuk mengetahui siapa yang menyapa. Tidak lebih. ia lebih fokus mengais barang-barang bekas ditempat sampah.

Kalau dipikir, itu bukan kekurangan, tapi kelebihan. Iebih memilih fokus melanjutkan pekerjaannya, dari pada ngobrol yang tiada gunanya. Dia tidak ingin rezekinya hilang gara-gara obrolan yang sia-sia.

Di Kota, ditempat-tempat umum, diperumahan. Setiap hari, selalu ada orang meminta-minta. Orangnya sama, masih tidak terlalu tua, sekitar umur 30 sampai 40 an. Bahkan ada yang jauh lebih mudah. Dan dikerjakan oleh beberapa orang. Seakan, meminta-minta adalah palaning dan program husus dalam kehidupan mereka.

Bukan tidak suka pada Pengemis. Tapi, jika ia masih mampu bekerja, dengan fisik yang lumayan: Waw. Apalagi semacam anak muda.Untak apa memberikan kepada mereka. Lebih baik, diberikan kepada orang-orang yang pantas menerima. Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang dibawah. Itulah pesan Nabi. Jangan sampai kita memberi pada orang yang salah.

Guru saya berpesan tatkala Peminta itu datang di sekolah. "Kalau kita membantu orang semacam itu, justru kita membuat mereka tambah malas"  Itulah sebabnya kenapa, Pemulung lebih mulia dari lada meminta-minta.

Baca juga:

Seorang Pelajar Yang Suka Nyasar kemana-mana hanya untuk mencari ilmu dan pengalaman.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments