7/13/2016

Hantam Dulu Resiko Belakangan

Tags

mikir
Image: Webly.com
“Hantam dulu, resiko belakangan”  Hj. Helmi

Sebuah kalimat singkat, padat, mudah dicerna bagi orang cerdas. Namun, membutuhkan penjelasan bagi yang pemikirannya masih remang-remang. Kata itulah yang tak pernah saya lupakan sampai sekarang. bak tersimpan rapi didalam otak. penyebabnya, kalimat hantam dulu resiko belakangan seperti lelucon. Bahkan hal itu menjadi bahan tertawaan bersama teman-teman di kelas.

Sampai sekarangpun, kalau bertemu dengan teman, chatingan di BBM. Kalimat itulah yang menjadi jurus ampuh, menghilangkan rasa kecanggungan karena perpisahan yang lama. Kalimat itu pula yang menjadi pelepas rindu kepada teman-teman seperjuangan di sekolah. nyatanya memang benar-benar manjur. Walaupun hantam dulu resiko belakangan sering di gunakan. akan tetapi saya belum tahu persis makna yang sebenarnya. Apa maksud dan tujuannya saya belum paham.

Baru kemudian setelah membaca Novel Surat Dahlan, pada cerita tentang bagaimana sosok Dahlan Iskan akan diterima menjadi Wartwan yang meragukan dirinya. baru saya sedikit mengerti. Ya, masih sedikit. Sebab belum memuaskan akan memahami makna kalimat yang sempat jadi bahan guyonan bersama teman-teman.

Jawaban yang memuaskan dari kalimat hantam dulu resiko belakangan, saya temukan di Blog Dahlan Iskan yang dikelola penggemarnya. Yang secara tidak sadar saya bisa nyasar kesana. Padahal tidak ada niat sama sekali mencari maksud kalimat itu. Berikut percakapan Dahlan iskan yang memberikan pemahaman:

Belajar Langsung Dari Dahlan Iskan
“Hajar Dulu, Mikir Belakangan”
Setelah dua tahun bekerja sebagai wartawan di Jawa Pos, pada tahun 1993, saya ditugaskan Dahlan Iskan mengelola sebuah koran pagi di Palu, Sulawesi Tengah.

Namanya harian Mercusuar. “Kapan berangkat Pak Bos?” tanya saya ketika menemui Dahlan di kantor Jawa Pos biro Jakarta di Jalan Prapanca Raya, waktu itu.
“Besok harus berangkat,” jawa Dahlan.
“Saya belum pernah mengelola perusahaan serumit penerbitan koran,” jelas saya setengah bertanya.
“Banyak orang yang menunggu tetapi tidak pernah kesempatan selama hidupnya. Anda tidak perlu menunggu, tiba-tiba kesempatan itu datang. Ambillah,” jawab Dahlan.
“Kalau orang mengambil kesempatan karena sudah siap, kapan orang itu maju? Bisa jadi, siapnya 5 tahun lagi. Sedangkan momentumnya sudah hilang minggu depan.
Jadi, jangan bertanya siap atau tidak siap. Ambil saja kesempatan itu segera,” lanjut Dahlan.
Menurut Dahlan, Indonesia lambat berkembang karena kebanyakan orang Indonesia terlalu lama mikirnya. Padahal kesempatan itu tidak datang terus. Karena mikirnya kelamaan, peluang itu kemudian pergi begitu saja. “Ini tipe orang tua,” jelas Dahlan.
Kalau Indonesia mau maju dengan cepat, orang muda harus diberi kesempatan. Orang muda jangan dihambat-hambat untuk memimpin. “Kalau syarat menjadi presiden harus punya pengalaman, itu tandanya presidennya masih mau menjabat lagi, belum mau diganti yang muda,” gurau Dahlan.
Kepemimpinan orang muda di segala bidang menurut Dahlan akan mengubah Indonesia dengan cepat. Orang muda mikirnya tidak ada yang lama. Orang muda biasa berpikir cepat, mengambil keputusan cepat dan bergerak cepat. Bahkan, orang muda sering nggak pakai mikir, langsung mengambil keputusan dan mengerjakan dengan cepat,” lanjutnya sembari tertawa.
Kepempinan orang muda umumnya juga lebih berhasil. Mengapa? “Karena orang muda ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya memiliki kemampuan. Kalau orang tua yang sudah bertahun-tahun jadi pejabat tinggi, apa lagi yang ingin diperlihatkan? Semua orang juga sudah tahu. Jadi, motivasi majunya orang muda itu tinggi,” kata Dahlan (*disalin dari facebok Joko Intarto)

Sangat mirip, bahkan hampir sama. Antara “Hantam dulu, resiko belakangan vs hajar dulu, mikir belakangan”

Dulu, guru saya menjelaskan perihal kalimat yang disampaikan setelah ditanya oleh salah satu teman saya. Bahwa, jika kita ingin melakukan sesuatu. Jangan terlalu banyak mikir, lakukan saja. Kalau terlalu banyak mikir, semua akan tertinggal. Bahkan bisa jadi tidak dilakukan, orang seperti itu dikatakan TELMI alias telat mikir.

Selesai memberi keterangan, sayapun langsung bertanya “Pak, bagaimana kalau ternyata ketika melakukan sesuatu dalam perjalanan tidak mampu. Bukankah itu berbahaya dan bisa merusak?”.

“Begini, Jika kamu sedang dalam perjalanan. Kemudian ditengah jalan ada batu besar yang menghalangi. maka langsung angkat batu itu, tidak perlu mikir. Kalau ternyata tidak mampu. Letakkan lagi batu itu.  Jika kamu terlalu lama mikir bagaimana cara mengangkat batu. Kapan kamu mengangkatnya. Waktu keburu habis.  Artinya, lakukan saja jangan terlalu banyak pertimbangan. Resikonya, nanti cari solusi lain”.

Begitulah penjelasan dari guru tentang Hantam dulu resiko belakangan.


EmoticonEmoticon