7/09/2016

Dia Lebih Miskin Dari Yang Saya Kira

rumah miskin
Tepat tiga hari setelah hari lebaran Idul Fitri. Atas perintah Bpk Ketua. Bersama bapak Kordinator Pembina, dan seorang pembina. Saya blusukan ke salah satu desa. Lebih tepatnya bersilaturrahmi dalam rangka mengetahui keberedaan anak didik kami. Bukan program rutinitas, bukan atas inisiatif lembaga. Hanya kebtulan saja, atau memang takdir. Kami secara mendadak mengadakan kunjungan semacam ini.

Satu jam perjalanan kami tempuh, dari Kota ke Desa. Tempat dimana anak miskin itu tinggal. Anak itu piatu, tidak memiliki seorang Ibu. Yang ia punya hanya seorang ayah yang sudah tua dengan pakain lusuh. Kakak dan seorang Adik yang masih kecil. Mungkin masih sekolah TK. Atau, tidak sekolah sama sekali, karena mereka tidak punya apa-apa untuk biaya sekolah.

Mobil kami tidak bisa masuk, terpaksa kami harus jalan kaki. Menelurusi jalan-jalan kecil. Namun tidak terlalu jauh. Setibanya di rumah anak piatu itu. Kami tidak menemukan siapa-siapa. Hanya seorang anak perempuan kecil, mungil, yang tak lain adalah adiknya. Sang ayah sedang berada di ladang. Sementara kakaknya baru datang setelah 10 menit kemudian.
rumah anak yatim

Anak kecil itu berlari-lari. Menjemput Ayahnya yang bercocok tanam di sawah. Kami melihat-lihat kondisi rumah. Dalam hati saya merasa Iba, kasihan, bahkan membuat saya menangis. Melihat rumahnya yang terbuat dari kayu dan bambu yang sudah usang. Rumah itu tidak memiliki tempat husus untuk tamu. Sehingga dengan senang hati kami duduk dibawah beralaskan tikar.

Pada saat itulah Bpk. Kordinator Pembina berbisik pada saya sekaligus sebagai rasa penyesalan kami, karena kami tidak membawa apa-apa sama sekali untuk diberkan pada mereka.

"Kenapa kita tidak membawa sembako, beras, mie, makanan. Atau apa saja yang dapat diberikan pada mereka"

"Maaf pak. Tujuan kita kan hanya bersilaturrahmi. Ya kita tidak bawa apa-apa".

Kami diam semua. Bpk. Kordinator diam seribu bahasa, demikian juga Bpk. Pembina. Teman saya memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong. Entah apa yang dibayangkan. Dalam tatapannya, teman saya mulai merembes air matanya. Sementara saya berusaha menahan air mata, tidak ingin  diketahui teman-teman. Walaupun ahirnya ketahuan juga.

Dalam hati saya membayangkan. Bagaimana susahnya mereka bertahan hidup, Mencari makan untuk keluarganya, membiayai sekolah anaknya, mencukupi kebutuhan hidupnya. Bagaimana mereka bisa nyaman tinggal dirumah yang beralaskan tanah, tidak ada tempat tidur sama sekali, tempat dudukpun tak ada. Dengan satu lampu yang diletakkan diluar, bagaimana mereka bis tenang dimalam hari. 

Ayahnya datang ketika kami hampir mau pulang. Pakainnya lusuh, keringatnya masih melekat, capel yang dipakainya membuat sang ayah mudah ditebak kalau ia dari ladang. Kami mengurungkan niat untuk pulang. Menemui bapak dari ketiga bersaudara. 

Dengan perasaan sungkan, malu, tidak nyaman. Ia menceritakan perihal anaknya yang kami tampung dan asuh di Asrama lembaga. Ia tak menceritakan tentang keberadaan rumahnya. Ia mengerti, kalau keberadaan kami disana cukup menjadi saksi kalau mereka orang yang tidak punya.

Sang ayah selalu menundukkan kepalanya. Tidak berani mendongakkan kepala. Hanya sebatas manggut-mangut jika kami berbicara.

Saya merasa bangga bisa berkunjung kerumahnya. Dari mereka dapat mengambil pelajaran. Sabar, ikhlas, menerima apa adanya, sederhana. Rumah yang sangat tidak layak ditempati, tidak membuat ia malu melayani tamu. Dari mereka pula dapt diambil pelajaran, bahwa semiskin-miskinnya kita. Janganlah berkecil hati. Bahwa orang kaya belum tentu mulya dari pada orang miskin.


EmoticonEmoticon