Di Puncak Gunung Patirana

Di Puncak Gunung Patirana

aden zaied
Rencana hanya untuk liburan kebondowoso. Tepatnya di Pondok pesantren Al Ishlah yang bersebelahan dengan gunung Patirana. Tanpa sepengetahuan, teman-teman  seangkatan dulunya sedang melaksanakan KKN. Entah, bagaimana rasanya kalau di Asrama Pondok tidak ada teman-teman yang saya kenal. serasa hidup dalam keterasingan. Untungnya masih ada satu dua teman yang masih stand di Al Ishlah. Sehingga tak jadi dirundung kesepian.

Tanpa disengaja, seorang teman yang bernama widhy disebut juga ahlul ngopi, karena kebiasaannya selalu nangkring di warkop. Mengajak  untuk mengnjungi teman-teman Mahasiswa yang lagi disambar ujian KKN. Lokasi posko teman-teman yang walaupun jauh, namun masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. tidak terlalu jauh dari Gunung Patirana. Inilah yang menjadi musabab kami naik ke puncak gunung patirana. Yang menjadi awal cerita di kejar asap.

Naudzubillah, Lelahnya selama dalam perjalanan. Kaki  seperti ada yang  menggandrungi. Ini baru menuju posko KKN Mahasiswa STIT Al Ishlah, belum ke Gunung Patirananya. Entah bagaimana nantinya bisa sampai kepuncak. Setapak demi setapak, Alhamdulillah ahirnya sampai juga di posko dengan sisa sisa nafas yang masih ngos-ngosan

Di Posko KKN bertemu dengan teman-teman seperjuangan, teman seperguruan selama belajar di Al Ishlah, dan teman senongkrong diwarung kopi. Sore hari  berangkat menuju puncak Gunung Patirana. Semua pakaian dan barang bawaan didalam tas, dilucuti oleh Nanang Setiawan. Biar tidak berat selama  dalam perjalanan katanya. Kami berlima berangkat, terdiri dari Nanang Setiawan, Widhy, Rahmad Aldy, Nanang Jionks dan saya sendiri.
atrono aden zaied

Sembari dalam perjalanan. Kami menyambangi Asrama Posko KKN Mahasiswi Stit Al Ishlah. Sekedar mau mengabari pada teman-teman putri. Kalau ada tamu dari Sumenep. Mantan santri yang dulunya suka nyasar ke perpusatakaan, dan suka mencari ketenangan ditengah sawah. Namun sayang, kami tidak dapat bertemu langsung. Hanya melalui suara di telpon. Terpaksa kami melanjutkan perjalanan tanpa harus face to face dengan Teman-teman Mahasiswi.

"Zho! Ojo gae pakaian iku" Ucap Nanang.

"Lho, kenapa?"

Tiba-tiba Rahmad Aldy menimpali "kalau berpakaian hem, dilarang naik kepuncak. Soalnya pernah kejadian kecelakaan di puncak. Orang kota sudah tidak dipercaya berpengelaman naik puncak gunung".

Sebagai orang yang bekerja di salah satu lembaga, mungkin ini sebab saya selalu berpakaian resmi (hem). Sehingga ke Pondok saja memakai pakaian resmi. Disamping itu tidak membawa pakaian cadangan. Ahrinya pakaian hem dilepas, tinggal kaos biasa. Agar nantinya diperbolehkan naik ke puncak..


STAMINA YANG MULAI MELEMAH

Stamina hanyalah kata lain dari tenaga, yang sering kami gunakan dalam percakapan. Biar kelihatan lebih humoris, atau sedikit modern. Baru pertama kali ini naik ke Puncak Gunung. Kami belum sampai ke lereng. Puncak Patirana itu hanya terlihat dari kejauhan. Entah, butuh berapa jam untuk bisa kesana. Perjalanan masih jauh. Sementara perbekalan kami tidak bawa. Terpaksa mampir di salah satu warung. Sekedar mengisi stamina yang terkuras habis selama dalam perjalanan.

Syukur Alhamdulillah, stamina pulih kembali setelah semangkok mie goreng bersedia menemani dikala kami kehabisan tenaga. Sehingga ada kekuatan baru untuk meneruskan perjalanan. Perjalanan masih jauh, diperkirakan butuh 3 jam untuk sampai ke puncak.  

Namun apalah daya. Manusia bukan robot, bukan pula superman yang bisa terbang kemana-mana. Selama dalam perjalana, selalu kehabisan stamina. Tas yang isinya tak seberapa, seperti berisi batu. Terasa berat. Terpaksa berhenti berkali-kali ditengah perjalanan. Sekedar mengisi ulang tenaga yang terkuras.

Yang paling hebat diantara kami adalah Rahmad. Ia selalu yang tercepat dalam perjalanan. Jarang berhenti, bahkan kadang lari-lari meski tanjakan seperti gedung berlantai lantai. Yang paling baik adalah Nanank Jionks, karena ia rela membawakan tas dikala tak kuat lagi membawanya. Yang paling memberi motivasi adalah Nanang Setiawan, disaat kami berhenti, dialah yang paling getol memompa semangat untuk melanjutkan perjalanan. Yang paling aneh widhy, bercanda dengan se ekor angsa, seperti anak kecil yang masih ingusan. 

Rasa gembira datang ketika menemukan pohon mangga. Buah-buahnya sedang bergelantungan. Entah milik siapa. Tapi saya teringat pelajaran waktu MTs dan SMA, sesuatu yang ada di gunung dan dilautan itu adalah garansi dari yang maha kuasa. Tanpa pikir panjang, kami petik buah mangga yang masih mentah itu. Walau terasa kecut, yang penting bisa menetralisir satamina yang mulai melemah.


KABUT ITU SUDAH TERLIHAT

Dipertengahan puncak, terlihat disekliling pemandangan yang tak kalah indahnya dengan gambar gambar fatamorgana yang dipampang dilayar telivisi. Tak kalah hebatnya dengan alam wisata. Ditepi barat, terlihat senja yang sedang menunggu malaikat untuk menenggelamkannya.

Disaat senja hampir tenggelam. Kabut-kabut asap itu menyelimuti pepohonan, pegunungan di sebelah, dan menyelimuti apa saja yang menjadi sasaran empuknya. Kabut asap itu juga mengambang di atas langit, jaraknya tak seberapa diatas kepala. Bisa dibilang rendah dari pada terbangnya pesawat. Bisa dibilang tinggi dari kami yang sedang berdiri menyaksikan pemandangan alam sekitar.
aden zaied

Adzan maghrib terdengar dari suara-suara loudspeaker. Kami belum shalat. Kabut asap itu diam-diam mulai bergerak. Sengat pelan. Kalau mata  tidak jeli melihatnya. Maka akan mengira Kabut itu tidak bergerak sama sekali. Sama halnya dengan ketika melihat awan yang paling tinggi dihalaman rumah. kemudian memandang keatas langit. Mak Ia seperti  tidak bergerak. Namun sedikit demi sedikit awan yang sangat tinggi itu pindah tempat.

Kami belum shalat maghrib. Yang dipikirkan, dimanakah nanti shalat. Semuanya saya pasrahkan pada teman-teman. Asal tidak menggunakan jasa Aladin yang bisa melakukan apa saja di atas karpet sejadah terbangnnya. Yang penting bisa shalat.

"Nanti kita shalat di atas puncak. Disana tempatnya agak lebar ko" kata rahmad dengan staminanya yang tak pernah habis-habis.

Dengan sisa tenaga yang ada, pemandangan disekitar sudah mulai remang-remang. Perjalanan dilanjutkan. diperkirakan setengah jam lagi baru sampai di puncak. Mungkin shalat maghrib bisa kepepet, sehingga  mempercepat perjalanan Mengejar waktu. Teman-teman bilang, kalau sebentar lagi akan sampai. 


DIKALAHKAN KEJARAN KABUT ASAP
Jalan menuju kepuncak sangat sempit. Mungkin seukuran jalan-jalan disawah, mungkin sesempit jalan-jalan darawa.  Bahkan lebib sempit. Ketakutan membuat saya mengajak teman-teman untuk kembali. Lebih baik kembali dari pada menyetor nyawa kepada malaikat maut.

Malah, ajakan untuk kembali dianggap guyonan. Mereka tetap memaksa untuk melanjutkan. Apalagi sudah terlanjur mau sampai kepuncak Patirana. Pilihan ada dua, tetap melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi akan sampai ke puncak. Atau kembali dengan disambut kabut asap dibelakang dan jalan pulang tidak terlihat.

Apa boleh buat, hati galau dan penuh cemas disertai rasa takut yang luar biasa. Akhirnya tetap melanjutkan perjalanan. Pepeatah mengatakan :  ketakutan yang menumpuk,  akan menjadi keberanian yang luar biasa. Dan itu jauh lebih berbahaya. Bagaiamanapun, kita memang ditakdirkan lahir dengan rasa takut. Namun tidak boleh gentar menghadapi apapun.

Dibelakang kabut asap sudah dekat, mulai mengejar. Mungkin sebentar lagi akan dapat menyusul menyelimuti seluruh kawanan. Dengan semangat semangat 45, teman-teman berlaian.  Sayang sekali, semangat empat lima kami tak mampu menghindari kecepatan kabut asap. Walaupun sudah berusaha lari secepat mungkin. Kabut itu tetap mengalahkan kami. Sehingga pandangan kami terbatas, hanya bisa memandang sekitar satu meter kedepan. 


DIPUNCAK PATIRANA
Waktu petang hampir mau habis. Sebentar lagi akan berganti malam. Kabut asap perlahan mulai menghilang. Jalan yang sempit itu terlihat didepan mata. Ternyata jalan yang dianggap seram itu tidak hanya sempit, melainkan juga kecil dan penuh bebatuan. 

Saya menelan ludah, diam seribu bahasa. Membayangkan, sekan maut sudah menunggu. Tegang, takut, cemas, kedinginan, semua saya rasakan. Seakan mati kutu, disapa teman tak menjawab. Teman-teman dengan mudahnya melewati jalan yang sempit penuh bebatuan, mungkin karena mereka sudah terbiasa atau karena bantuan senter led yang digunakannya. 

Tak ada suara, senyap dan sunyi selama melewati jalan sempit ini. Hanya longlongan se ekor anjing yang terdengar. Tak berkata apa-apa, disapa teman juga tak menjawab. Pikiran kosong berganti bayangan menatap jauh tentang hal-hal yang akan terjadi.

Disisi lain saya merasa tidak nyaman pada teman-teman. Kelincahan mereka melewati jalan bebatuan, terhambat lantaran mencemaskan keberadaan saya. Lega rasanya setelah  titik pusat puncak patirana terlihat mata. Yang semula diam seribu bahasa, kini mulai sedikit tersenyum. Kadang juga mau tertawa. Setibanya dipuncak,  kami langsung bertayammum. Melaksanakan shalat maghrib yang hampir habis waktunya.

Jam hampir pukul 12 malam, kami masih berada di atas puncak patirana. Dipuncak kami tak dapat berbuat banyak, hanya bercerita, bakar-bakar, makan mei perbekalan. Ditengah larut malam, teman-teman sudah ada yang tidur. Api tungku yang dibakar mampu mengurangi rasa kedinginan. Sayangnya hanya bertahan sebentar. 

Tantangan berikutnya adalah pulang melewati jalan yang sama dengan kecemasan yang berbeda. Ya, kali ini tidak terlalu seruwet saat keberangkatan. walaupun jam dini hari, yang pada akhirnya, tiba posko KKN dengan segala kenangannya.

Baca juga:

Karena belajar adalah kewajiban, menulis untuk mengabadikan, menyebarkan merupakan kebaikan
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments